Filsafat Ilmu (Bag. 3)

Hang-tuah.com- Filsafat ilmu bertujuan memupuk kemandirian sikap dan pemikiran. Dunia barat sudah memupuk ini sudah ratusan tahun dan kita baru puluhan tahun, karena kita terlalu lama terkungkung dalam kolektivitas.

Umumnya isi kepala kita itu klise atau sama, ketika kita ditanya tentang pentingnya agama? Maka jawabannya adalah sama dan ketebak, semua akan bilang “pegangan hidup”.

Harusnya ada sesuatu yang lebih canggih dan berbeda. Sebagai hasil pemikiran pribadi atau personal yang menunjukan banyaknya pengetahuan.

Filsafat itu mengacak-acak dari satu sisi namun memaksa kita untuk punya sikap yang lebih pribadi dan lebih mandiri.

Kita sudah terlalu lama hidup dalam masyarakat komunal, dimana identitas kita dan siapa kita ditumbuhkan oleh pemikiran kolompok dan bukan oleh sikap pribadi. Ini merupakan model sikap manusia pra-modern dan feodal.

Individu itu menjadi eksis kalau menjadi bagian dari kawanan, artinya jika terlepas dari itu seseorang menjadi bukan siapa-siapa (no body) dan tak tau harus bagaimana karena semua yang digunakan dalam hidup berasal dari pandangan kelompok.

Pada tingkat itu, individu tidak dipaksa atau dilatih dalam merumuskan sikap-sikap pribadi yang khas. Bahkan, sebaliknya diajarkan untuk sesuai dengan pemikiran orang lain dalam kelompoknya.

Alhasil dengan kata lain, kalau kita tanya pendapat pribadi mereka hampir selalu dangkal, tidak ada kedalaman tertentu dan klise. Tragisnya, sesunguhnya individu-individu itu seperti tidak tau apa yang mereka mau dan tidak tau apa dilakukan karena semuanya dibentuk dari kata orang.

Masyarakat pra-modern dimana-mana seperti hal yang di atas. Eropa dulu pada zaman pra-modern juga mengalami hal sama. Karena pada zaman pra-modern seluruh kehidupan dikelola oleh kelisanan atau dunia gossip atau dunia kata orang.

Ketika dunia barat masuk pada kebudayaan baca tulis, budaya baca tulis memaksa orang untuk menjadi diri sendiri karena membaca masuk dalam ruang pribadi.

Dan hal itu, mereka dipaksa berefleksi dalam perenungan-perenungan untuk membangun pemikiran sendiri dan mencerna serta masuk dalam alur pemikiran-pemikiran panjang.

Kalimat yang panjang dalam buku yang tertulis akan menyeret pembaca pada pikiran-pikiran panjang. Dan dalam budaya lisan, kita tidak bisa mengingat kalimat-kalimat panjang dan akhirnya befikir pendek dan terbiasa tidak bernalar detail.

Membangun argument yang detail dan panjang baru terbangun pada budaya baca tulis, dimana orang bias mengungkapkan alur berfikir yang panjang.

Budaya itu apa? Identitas itu apa? Yang sering kita akui sebagai khas kita. Sering kali dalam sesungguhnya itu bukan khas kita dalam arti asli atau murni. Karena budaya itu minjam, tidak ada budaya yang asli dalam membangun kebudayaan sendiri.

Semua budaya terbangun dari interaksi dari budaya lain dan dalam prosesnya semua budaya mengalami proses pinjam meminjam dari budaya lain. Gabungan dari unsur budaya lain itu yang diramu menjadi budaya baru.

Ironisnya jika ada pemaksaan kemurnian budaya maka tentunya akan ada banyak korban. Atas nama kemurnian aka nada sewenang-sewenang. Seperti Hitler yang membunuh 6 juta orang untuk pemurnian ras.

Pada millennium ketiga ini cendrung mengalami pembongkaran sekat-sekat pengetahuan. Dan itu merupakan kodrat dari filsafat.

Ditulis oleh : Oldy, A.A – Mahasiswa Doktor Ekonomi UNJA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TELEPHONE